Moment Terakhir di SMA

Di sebuah pagi yang cerah, kelas XII IPA 2 sudah mulai dipenuhi oleh hiruk-pikuk suara teman-teman yang sedang mempersiapkan ujian akhir. Di sudut ruangan, ada empat sahabat yang duduk berdampingan, yaitu Nala, Alfino, Aksa, dan Elena. Mereka bukan hanya teman sekelas, tetapi sudah seperti keluarga sejak tahun pertama di SMA.

Nala adalah gadis pendiam, yang cerdas dan selalu menjadi tempat bertanya bagi teman-temannya. Alfino, si pemuda ceria yang selalu bisa membuat suasana jadi lebih hidup, meski kadang agak ceroboh. Aksa, si pekerja keras yang tak pernah mengeluh meskipun seringkali kelelahan karena kegiatan ekstrakurikuler. Dan Elena, si pelawak yang sering membuat semua orang tertawa dengan leluconnya, namun diam-diam juga sangat peduli dengan teman-temannya.

Hari itu, mereka sedang berkumpul di sebuah sudut kelas setelah jam pelajaran terakhir. Wajah mereka menunjukkan kelelahan, namun semangat untuk melewati ujian akhir dan menghadapi kenyataan bahwa SMA akan segera berakhir, membuat mereka tetap bertahan.

“Nala, kamu bawa buku catatan yang tadi kita buat nggak?” tanya Alfino sambil menepuk-nepuk meja di depannya.

Nala hanya tersenyum, lalu mengeluarkan buku catatannya dari tas. “Ini, semuanya ada di sini. Tapi, kalian harus bantu aku juga, ya. Tugas kita masih banyak!”

Elena yang sedang membaca buku sejarah, menoleh dan berkata, “Kalau kita lulus, kita harus merayakannya. Jangan sampai kita melewatkan momen ini begitu saja.”

Alfino mengangguk setuju. “Iya! Kita harus punya kenangan yang nggak terlupakan. Apalagi, tahun depan kita pasti sibuk dengan kehidupan masing-masing.”

Aksa yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya ikut bicara. “Tapi kita harus berusaha lulus dulu, kan? Kalau nggak lulus, kita nggak bisa merayakan apa-apa.”

Tertawa ringan, Nala menjawab, “Tenang saja, Aksa. Kita kan sudah belajar bareng selama ini. Pasti bisa kok!”

Setelah pelajaran berakhir, mereka berjalan menuju kantin bersama-sama, seperti yang biasa mereka lakukan setiap kali ada waktu senggang. Di kantin, mereka duduk di meja yang sudah jadi tempat favorit mereka. Keterbukaan dan kehangatan yang terjalin di antara mereka membuat suasana kantin menjadi lebih ceria, meskipun ramai dengan para siswa lainnya.

“Kalau kalian ingat, dulu kita sering cemas saat ujian tengah semester. Sekarang, ujian akhir sudah di depan mata. Rasanya campur aduk,” ujar Elena sambil mengambil beberapa potongan pizza.

Alfino tertawa. “Dulu kita sering nyontek, tapi sekarang nggak bisa lagi. Semua jadi lebih serius, ya?”

Mereka tertawa bersama. Kebersamaan yang sudah terjalin selama tiga tahun, menghadirkan kenangan yang tak tergantikan. Bagi mereka, SMA bukan hanya tentang belajar di ruang kelas atau ujian yang menantang, tetapi juga tentang bagaimana mereka saling mendukung, berbagi tawa, dan menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.

Setelah makan, mereka memutuskan untuk duduk di taman sekolah. Di bawah pohon yang rindang, mereka mengobrol tentang berbagai hal. Tentang masa depan, tentang impian mereka masing-masing, tentang hal-hal kecil yang mungkin tak pernah mereka ungkapkan sebelumnya.

“Tapi apapun yang terjadi, kita harus tetap saling mendukung, kan?” kata Aksa dengan suara yang lebih serius.

Nala mengangguk, “Tentu. Walau nanti kita sibuk dengan dunia kita masing-masing, jangan sampai lupa untuk saling memberi kabar. Kita sudah seperti keluarga.”

Elena menambahkan, “Iya, kita akan tetap jadi teman seumur hidup. SMA ini adalah kenangan yang nggak akan pernah kita lupakan.”

Alfino yang sejak tadi hanya diam, akhirnya berbicara dengan suara pelan, “Nanti, saat kita sudah lulus, kita pasti akan merindukan semua momen ini. Teman-teman yang selalu ada, dan kebersamaan yang tak ternilai harganya.”

Hari itu, di bawah pohon yang sama, mereka berbicara tentang segala kemungkinan yang ada di depan. Meski tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi setelah SMA berakhir, satu hal yang pasti mereka akan selalu mengenang kebersamaan mereka yang tak tergantikan. Sebuah ikatan yang lebih kuat daripada apapun, yang terbentuk dari tawa, dukungan, dan persahabatan sejati.

Dan ketika akhirnya bel tanda pulang berbunyi, mereka pun berpisah. Tetapi, di hati mereka, kebersamaan itu tetap hidup.

NAILA HAPSARI (20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *