Cahaya Di Sudut Kamar

Dini hari menghampiri. Cahaya rembulan menembus celah gorden tipis, menerangi wajah Alif yang masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang pada hari-hari indah bersama teman-temannya.
Alif ingat betul saat mereka masih kecil, bermain petak umpet di halaman belakang rumah, tertawa lepas tanpa beban. Mereka saling berbagi cerita, suka dan duka, menjadi keluarga kecil yang hangat. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jarak fisik dan kesibukan membuat pertemuan mereka semakin jarang.
Rasa rindu menyeruak dalam dada Alif. Ia merindukan saat-saat mereka berkumpul, bercanda gurau, dan saling mendukung. Alif mengambil ponselnya, lalu mengetuk layar. Jari-jarinya mengetik pesan kepada teman-temannya.
“Hai teman-teman, apa kabar? Kangen banget sama kita semua. Yuk, kita kumpul lagi!” tulis Alif.
Beberapa saat kemudian, notifikasi masuk. Balasan dari teman-temannya berdatangan. Mereka semua ternyata merasakan hal yang sama. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengadakan reuni kecil-kecilan di akhir pekan.
Hari yang ditunggu pun tiba. Mereka berkumpul di kafe favorit mereka dulu. Suasana hangat langsung terasa saat mereka bertemu. Mereka saling berpelukan, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Tertawa lepas, seperti saat mereka masih kecil.
Alif merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman sepertinya. Mereka adalah harta yang tak ternilai. Melalui pertemuan ini, Alif menyadari bahwa kebersamaan adalah hal yang sangat penting dalam hidup. Dengan adanya teman, hidup terasa lebih berwarna dan berarti.
Cahaya rembulan kembali menembus jendela kamar Alif. Kali ini, ia tidur dengan senyuman di wajah. Ia merasa tenang dan bahagia. Ia tahu, persahabatan mereka akan selalu terjaga, tak peduli jarak dan waktu.

MUHAMMAD ALIF NUR ASSYIFA’ (15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *