Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh ladang padi yang menghijau, tinggalah keluarga kecil: Ayah, Ibu, dan dua anak mereka, Nia dan Fikri. Hidup mereka sederhana, tetapi penuh kehangatan. Setiap sore, keluarga itu memiliki tradisi duduk bersama di teras rumah, menikmati secangkir teh hangat sambil berbagi cerita tentang hari mereka.
Hari itu, senja datang dengan warna jingga yang indah. Nia, yang baru saja pulang dari sekolah, dengan semangat bercerita tentang lomba menggambar yang akan diikutinya. “Aku mau menggambar pemandangan desa ini, Bu. Aku mau tunjukkan kalau desa kita itu indah sekali!” katanya dengan mata berbinar.
Fikri, yang lebih kecil, tiba-tiba berkata, “Aku juga mau bantu, Kak! Aku bisa warnai pohon-pohonnya!” Ayah dan Ibu tertawa kecil melihat semangat anak-anak mereka.
“Kalau begitu, kita bisa buat proyek keluarga,” kata Ayah. “Besok, kita akan pergi ke bukit belakang desa untuk mencari inspirasi.”
Esoknya, pagi-pagi sekali, mereka berempat berjalan bersama menuju bukit. Ayah membawa kamera tua miliknya, Ibu membawa bekal, sementara Nia dan Fikri tak henti-hentinya berbicara tentang apa yang akan mereka gambar.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di puncak bukit. Dari sana, terlihat hamparan sawah, sungai yang berkelok, dan rumah-rumah kecil yang tampak seperti titik-titik di kejauhan. Langit biru cerah melengkapi keindahan itu.
“Indah sekali,” bisik Nia sambil memandang takjub.
Mereka mulai bekerja. Nia menggambar sketsa, sementara Fikri membantu mewarnai. Ayah mengambil foto-foto indah, dan Ibu duduk di samping mereka, menyiapkan makanan. Mereka saling bercanda, tertawa, dan menikmati waktu bersama tanpa terganggu oleh apa pun.
Ketika senja tiba, mereka menyelesaikan gambar itu. Hasilnya sederhana tetapi penuh warna dan emosi. Gambar itu seolah-olah merekam bukan hanya pemandangan, tetapi juga kebahagiaan mereka bersama.
“Karya keluarga kita,” kata Ibu dengan bangga sambil memandang gambar itu.
Saat mereka berjalan pulang, Nia berkata, “Aku baru sadar, yang membuat desa ini indah bukan cuma pemandangannya, tapi juga kebersamaan kita.”
Malam itu, di bawah sinar lampu minyak yang temaram, keluarga kecil itu tidur dengan hati yang penuh kebahagiaan. Bagi mereka, kebersamaan adalah kekayaan terbesar yang tak tergantikan oleh apa pun.

GUNTUR WIRANATA (10)
